GERAKAN PRAMUKA SMK NEGERI 7 KOTA BEKASI

Peresmian Gugus Depan Gerakan Pramuka Pangkalan SMK Negeri 7 Kota Bekasi Tingkat Penegak Kota Bekasi.

Hut Kota Bekasi

SMK Negeri 7 Kota Bekasi turut merayakan HUT Kota Bekasi dan ikut serta dalam mewujudkan Kota Bekasi yag Cerdas, Sehat, dan Ihsan.

Keluarga Besar SMK Negeri 7 Kota Bekasi

Suasana penuh semangat keluarga besar SMK Negeri 7 Kota Bekasi, dalam kegiatan Fun Bike yang diadakan guna meningkatkan harmonisasi lembaga dengan lingkungan sekitar.

Minggu, 19 Oktober 2014

KOPDAR_PAMITAN



Hari ini, 20 Oktober 2014, secara resmi saya mengakhiri tugas, jabatan & tanggung jawab saya sebagai Presiden Republik Indonesia. *SBY*

Saya & Ibu Ani sungguh bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan izin, berkah & pertolongan-Nya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada jajaran pemerintahan, pusat & daerah, atas dukungan & kerja kerasnya selama 10 tahun ini.

Terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada saudara-saudaraku rakyat Indonesia yang telah memberikan mandat & dukungannya.

Memimpin negara di era demokrasi & reformasi, besar tantangannya. Alhamdulillah, dengan dukungan rakyat tugas itu dapat saya emban.

Ditengah berat & kompleksnya permasalahan, ditambah cacian & fitnah yang tak henti, demi rakyat saya harus tetap bekerja & terus bekerja

Atas dukungan rakyat, kita telah mencetak banyak prestasi & keberhasilan. Namun, tidak sedikit pula yang belum sepenuhnya kita capai.

Sebagai Presiden saya sungguh ingin berbuat yang terbaik. Namun, saya manusia biasa yang tak bebas dari kelemahan & kekurangan.

Saya & istri mohon diri. Maafkan segala kekhilafan kami. Kami sangat menyayangi bapak, ibu & anakku sekalian, rakyat Indonesia.

Semoga di bawah Presiden Jokowi negara kita bertambah maju. Dan semoga Allah membimbing & melindungi seluruh rakyat Indonesia.


-------------------------------------
"Pergi Tampak Punggung."

Siap kembali ke tengah masyarakat biasa, serta menikmati indahnya Tanah Airku.

















Mohon maaf jika 10 tahun memimpin negeri tercinta, ada tutur kata / perilaku yang tidak berkenan di hati bapak, ibu & saudara, rakyat Indonesia. *SBY*

Sesungguhnya, dengan segala kekurangan yang kami miliki, kami ingin berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Salam sayang kami. *SBY*
 







Foto ini diambil di Istana Merdeka setelah SBY mengucapkan sumpah sebagai Presiden RI VI di depan Sidang MPR RI, 20 Oktober 2004. Saya mengenakan kain motif Papua dengan kebaya bordir berwarna putih, melambangkan ketulusan hati untuk mendampingi Presiden SBY dalam mengemban amanah rakyat. 














terima kasih bapak SBY dan ibu Ani
salam dari Keluarga besar SMKN 7 Kota Bekasi
  

Jumat, 17 Oktober 2014

PELANTIKAN GUGUS DEPAN PANGKALAN SMK Negeri 7 Kota Bekasi

Gugus depan pangkalan SMK Negeri 7 Kota Bekasi melaksanakan kegiatan Pelantikan anggota Pramuka golongan Penegak Bantara. Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan sekolah yang diikuti oleh sekitar kurang lebih 15 personil, meliputi anggota calon bantara, pengurus dewan ambalan dan unsur pembina.
“Tujuan diadakannya kegiatan pelantikan Penegak Bantara adalah mengembangkan persaudaraan, persatuan di kalangan Pramuka penegak dan Pandega serta member kepada mereka kegiatan yang bersifat kreatif, reaktif, Inovatif dan produktif yang mengarah kepada kemampuan untuk mandiri dalam kehidupan dan dapat memberikan bantuan untuk kemajuan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan jaman” 

 































































































salam pramuka 
dari SMKN 7 KOTA BEKASI

BERBAGI DAN BELAJAR BERQURBAN

Idul Adha merupakan salah satu moment hari besar islam. Idul Adha biasa disebut juga dengan Idul Qurban. Apa sih tujuannya dilaksanakan Idul Adha?Tujuannnya itu untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan juga meneladani Nabi Ibrahim as. Untuk sejarah hari Idul Adha sendiri, bisa dibaca buku-buku tentang keislaman atau searching di internet. Dan jika di lingkungan masyarakat atau masjid-masjid di luar sana mengadakan proses berqurban, kampus SMK Negeri 7 Kota Bekasi juga tidak mau kalah. Kita warga SMK Negeri 7 Kota Bekasi juga dilatih untuk belajar berqurban. Sejak 1 bulan yang lalu telah dibentuklah kepanitiaan agar acara Idul Adha tahun ini benar-benar berjalan dengan lancar. 

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.
Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.
Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.
Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani. 

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.
Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.
Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )   

  
Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.
Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga  hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan  dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka  bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.
Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)  


Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna. 

Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.
Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.

 Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.
Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.


Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. 




Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. 
Selamat berhari raya !

SALAM BERBAGI DARI SMK NEGERI 7 KOTA BEKASI